|
Ternyata, …Allah itu dekat
Ketapang, Areal Industri Papan Kayu Lapis. Alas Kusuma Group tanggal 23
Maret 2004. Tak kusangka desiran angin yang berhembus malam ini, serasa
melantunkan kalimat “betapa Allah masih menyayangiku”.
Cerita ini bermula ketika kami berlima Firman, Anto, Puji
Sanggara dan Ferry (penulis) mendapat kesempatan berpetualang di rimba
Kalimantan untuk Prakek Kerja Lapang Semester Akhir Fakultas Kehutanan
IPB.
Adalah menjadi kebanggaan bagi setiap mahasiswa Fakultas kami untuk
Rihlah ke bumi Allah yang lain, bisa menikmati keindahan alam
sekaligus tadzabur alam sebuah daerah yang berdasarkan Informasi
Buku Potret Kehutanan Indonesia memiliki keaneka ragaman hayati terbesar
di dunia, Subhanallah. Kenikmaan itu dipadu dengan berbagai
cerita seru petulangan kakak kelas kami yang sempat bertemu dengan
masyarakat dayak, memahami kebiasaan mereka, bergaul dan hidup
selayaknya mereka . Sungguh unik dan menkjubkan, sampai kami ditantang
untuk mencoba hewan buruan di pedalaman kalimantan tersebut.
Oh ya, Pernahkah anda makan daging yang bukan di sembelih
oleh orang muslim? . Bagaimana rasanya ? apa yang terpikir pertama kali
ketika melihat daging yang di sebelih tidak dengan cara muslim, dengan
tanpa terucapkan asma Allah SWT. Wah berabe kan jadinya masak iya
kita rela, dalam tubuh kita tercampur barang haram tersebut ?
Naudzubillah.
Godaan untuk mencicipi daging payau (sebutan untuk Kijang di
Kalimantan) semakin mendera tatkala seorang pemburu yang juga mandor
persemaian Camp Gunung Bunga PT Suka Jaya Makmur pulang berburu dengan
membawa hasil dua ekor payau. Sontak hatiku gembira sekali mendengar
berita itu, jarang-jarang makan sate payau.Tapi ketika hendak
mencicipinya, aneh terasa kok seperti ada yang mengingatkan.
Ketika itu, menjelang Maghrib, saya, firman, dan Sanggara memutuskan
untuk sholat terlebih dahulu, setelah itu kami sempat berhenti di rumah
Bapak Joko Widianto Manajer Camp Gunung Bunga, maksudnya sekalian
mengundang makan bersama.
“Bapak mari makan bersama , di mess tamu (memang saat
itu kami tinggal di mess tersebut), ada sate payau lho”, kataku. Pak
Joko menjawab, ”Masak Iya anda tega makan daging yang tidak disembelih
atas nama Allah”. Mendengar jawaban itu Saya, Fiman, dan Sanggara jadi
terdiam. “ Lho kok”, kata Firman. “ Iya, kalau menurut saya, saya tidak
mau makan seenak apapun masakan daging yang tidak disembelih tanpa
Bismillaahirrohmaanirrohiim”, jawa pria 30 tahun berputra satu itu.
Beliau menambahkan “ Apa di tempat kalian boleh?”. “ Masya Allah
Pak, kalau yang itu mah dimana saja tetap nggak boleh “ jawab
kami hampir serempak.
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging
babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah…” (QS.Al Baqarah [2]:173)
Syukurlah setelah usai nasihat itu dengan dilanjutkan sholat Isya’
Berjamaah hati ini rasanya menjadi tenang. Dari yang tadinya paling
bersemangat untuk makan daging, ujungnya jadi tidak berselera sama
sekali, apalagi pada jamuan makan tersebut mengundang masyarakat
setempat makan bersama (notabene Non muslim).
Selama satu minggu sejak kejadian itu terkuburlah keinginan
makan daging payau. Sampai suatu hari dalam daftar menu makan sore hari
dikabarkan semur daging payau dan sayur pedas, wuih senangnya
hatiku. Apalagi dengan penyajian sebesar dadu dipadu dengan sayur
pedas, Subhanallah.
Ternyata kalau kita dekat dengan Allah, serasa diri ini tidak perlu
pelindung yang lain selain Dia, Allah Sang peneguh sekaligus
pembolak-balik hati
Robbana
Laa Tuzigh Qulubana Ba’da Idzhadaitana Wahablana Milladunka Rohmatan
Innaka Antal Wahhab
“
Hai Sekalian Manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yanng
terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan,
karena sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al
Baqarah [2]:168)
Malam kian larut berseling bintang-bintang dengan kerling
cahayanya pancarkan pesona syukur yang tiada berbatas. Ternyata Allah
itu dekat ya… Wallahua’lam bishsawab. |