|
Tulusnya Hati Seorang yang Teraniaya
Tersebutlah pada hari itu Ahad, tepatnya tanggal 1 September 1988 (Wallahua’alam,
agak sedikit lupa), saat mentari mulai terseret ke atas kepala. Oh ya,
namaku Mochammad Ferry Suryansyah, tapi nama panggilanku “EYIK”
. tinggal bersama Ibuku di Asrama Yon Zipur 5 Brawidjaya, Kabupaten
Malang, Jawa Timur. Ayahku mendapat amanah tugas di perbatasan Papua
(dulu bernama Irian Jaya). Ketika itu memang aku terbilang paling bandel
diantara teman sesebayaku, cerita ini dimulai ketika aku dan teman
seusiaku bermain “pasar-pasaran” (yach, dengan menggunakan
kompor kecil, potongan batang pisang, tanah lempung dan daun-daunan), “mirip
pasar betulan kan ?”, ujarku ketika itu. “iya dong, bial kalo
udah gede jadi plesiden”.kata Meri Ulva (dengan gaya cadelnya).
Padahal mana nyambungnya presiden sama permainan itu. (hiii..hii geli
juga mengenangnya).
Oh ya, dalam permainan itu sedikitnya ada lima orang yang terlibat Meri
Ulva, Devi, Indra, Mas Bowo dan aku sendiri. Sebagai catatan Mas bowo
adalah orang yang bandel juga di Asrama tentara waktu itu, maunya
menang sendiri, tapi wajar sich walaupun umurnya hanya terpaut
satu tahun dari umurku, tapi karena tubuhnya yang hitam legam dan
tubuhnya besar, akupun keder juga didepannya.
Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi karena ketika itu masih jarang
yang mempunyai televisi, aku dan teman-temankupun tidak perlu
repot-repot nonton kartun (seperti sekarang ini), paling-paling Si unyil
yang lagi nge-trend, itu pun harus nonton di tetangga sebelah.
Setelah berpamitan aku langsung menuju rumahnya mas Alif untuk nonton
Doraemon lewat saluran bocoran parabola.
Pagi itu tidak seperti biasanya aku berangkat pas Ibuku masak sayur asem
kacang, sebetulnya ingin sekali sarapan waktu itu tapi agar tidak
ketinggalan film akupun rela, Ke”lapar”an itu muncul kembali
tatkala mas alif sambil nonton TV sambil sarapan (enak banget ya..
pikirku). Ditawarin sich tapi jaim (jaga image) dong.
Sebetulnya berangkat pagi, pulang sore tanpa mesti sarapan dulu itu
sudah biasa. Bagiku.
Kembali ke pasar-pasaran, selesai nonton doraemon, kami berlima berkumpul
di bawah pohon jambu milik Bu Teguh, tetangga sebelah rumah. Ketika di
tengah-tengah permainan perutku makin tidak kenal kompromi, akupun minta
ijin pulang dulu untuk makan. “Mas aku ma’em sik yo”, pintaku.”yo
ojo suwe-suwe yo”, kata yang lain (hampir serempak).
“Bu, maem, Eyik luwe”, kataku (dengan nada memelas), “yo wis
maem sik, iwake ndek njero lemari dapur” jawab ibuku dari
dalam rumah (memang letak rumah kami dan dapur terpisah halaman tempat
menjemur baju). Selesai makan aku langsung kembali ke tempat bermain
tadi.
Selang beberapa menit berlalu, tiba-tiba Bapaknya Mas Bowo
menyeringai keluar rumah sambil marah-marah , “ Bajingan, sapa sing
ngising ndek kene, kurang ajar” sumpah serapah orang jawa
keluar semua. Kemarahan itu memuncak seketika, matanya tertuju kearah
kami, kamipun bubar termasuk putra-putrinya sendiri, mas Bowo dan
Indra. Sedangkan Meri Ulva dan Devi langsung lari menjauh dari tempat
itu, memang selama ini Bapaknya Mas Bowo terkenal galak dan suka mukul
orang, maklumlah personel Satgas Provost. Melihat gelagat tidak
baik akupun langkah seribu menuju rumah dan langsung pura-pura tidur.
Sayup-sayup kudengar Bapak mas Bowo memarahi Ibuku, “Bulek
nek nggakbiso njogo anak nggak usah duwe anak, kurang ajar arek cilik
dijarno wae ngising ndek ngarep gotku”, “kono deloken”,
dengan raut muka yang merah padam membalut kulit yang hitam. Ibuku pun
tanpa sepatah kata dank arena tidak mau berpanjang lebar segera
meluncur dengan sigap mengambil sapu dan ember segera menuju ke blok
rumah mas Bowo. Dibersihkannya pula bekas buang hajat itu hingga tanpa
berbekas. “Ibu wedi nek dadi opo-opo, soale ayahmu kan gak ono”,
ujarnya ketika mengulang cerita itu suatu ketika. “yach itung itung
nabung amal”,imbuhnya lagi (dengan mata menerawang dan berkaca-kaca)
Duh hati ini rasanya trenyuh mendengar jawaban Ibu, padahal
ketika itu aku nggak sama sekali buang hajat disitu, dan ternyata
setelah tiga hari berselang diketahui ternyata Mas Bowo lah yang buang
air di situ, namun tidak juga permintaan maaf diucapkan oleh tetanggaku
yang tinggal di Blok IV no.7 itu Ibuku bilang “ nggak usah dipikirin
yang penting kita ikhlas menerimanya dan nggak dendam”.
Memang ketabahan itu dapat lahir dari siapa saja dan kapan
saja kalau manusia itu paham akan dirinya sendiri, tercipta dari tanah
dan akan kembali ke tanah juga. Tidak ada kesombongan kepada siapapun
itu walaupun sekedar mengucapkan minta maaf karena salah sangka.
Orang yang diceritakan di atas, wallahu a’lam kabar
terakhir istri beliau mengalami depresi berat sehingga mengalami
gangguan mental padahal beliau adalah mantan guru Sekolah Dasar. Kita
berdo’a bersama semoga kita terhindar dari sifat yang demikian.
Terlepas dari apakah benar kalau ibunda Eyik tadi betrdo’a
seperti apa, namun yang lebih penting luka hati seorang yang teraniyaya
akan lebih didengar Sang Maha Tinggi
Seperti khutbah Umar bin Khatab, “...dan jauhilah doa orang yang
teraniyaya, niscaya kau akan selamat” (Khutbah dan Nasihat Para
Shahabat, 2002).
Kosakata
-
Mas, aku ma’em sik yo = Kak saya mau makan duku ya
-
Bu, maem, Eyik luwe = Ibu makan Eyik Lapar
-
Yo wis maem sik, iwake ndek njero lemari dapur = Ya sudah
makan dulu, ikannya didalam lemari dapur
-
Bajingan, sapa sing ngising ndek kene, kurang ajar =
Siapa yang buang hajat di sini
- Bulek
nek nggak iso njogo anak nggak usah duwe anak, kurang ajar arek cilik
dijarno wae ngising ndek ngarep gotku”, “kono deloken” = “Bu,
kalo tidak bisa menjaga anak, tidak perlu punya anak, anak kecil di
biarkan buang hajat disaluran airku”. “Coba dilihat”
- Ibu
wedi nek dadi opo-opo, soale ayahmu kan gak ono = Ibu takut terjadi
apa-apa, sebab ayahmu tidak ada |
|