Free Web Hosting by Netfirms
Web Hosting by Netfirms | Free Domain Names by Netfirms

kisah 3
kisah 1 kisah 2 kisah 3 kisah 4

 

Up

Tulusnya Hati Seorang yang Teraniaya

Tersebutlah pada hari itu Ahad, tepatnya tanggal 1 September 1988 (Wallahua’alam, agak sedikit lupa), saat mentari mulai terseret ke atas kepala. Oh ya, namaku Mochammad Ferry Suryansyah, tapi nama panggilanku “EYIK” . tinggal bersama Ibuku di Asrama Yon Zipur 5 Brawidjaya, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ayahku mendapat amanah tugas di perbatasan  Papua (dulu bernama Irian Jaya). Ketika itu memang aku terbilang paling bandel diantara teman sesebayaku, cerita ini dimulai ketika aku dan teman seusiaku bermain “pasar-pasaran” (yach, dengan menggunakan kompor kecil, potongan batang pisang, tanah lempung dan daun-daunan), “mirip pasar betulan kan ?”, ujarku ketika itu. “iya dong, bial kalo udah gede jadi plesiden”.kata Meri Ulva (dengan gaya cadelnya). Padahal mana nyambungnya presiden sama permainan itu. (hiii..hii geli juga mengenangnya).

Oh ya, dalam permainan itu sedikitnya ada lima orang yang terlibat Meri Ulva, Devi, Indra, Mas Bowo dan aku sendiri. Sebagai catatan Mas bowo adalah orang yang bandel juga di Asrama tentara  waktu  itu, maunya menang sendiri, tapi wajar sich walaupun umurnya hanya terpaut satu tahun dari umurku, tapi karena tubuhnya yang hitam legam dan tubuhnya besar, akupun keder juga didepannya.

Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi karena ketika itu masih jarang yang mempunyai televisi, aku dan teman-temankupun tidak perlu repot-repot nonton kartun (seperti sekarang ini), paling-paling Si unyil yang lagi nge-trend, itu pun harus nonton di tetangga sebelah. Setelah berpamitan aku langsung menuju rumahnya mas Alif untuk nonton Doraemon lewat saluran bocoran parabola.

Pagi itu tidak seperti biasanya aku berangkat pas Ibuku masak sayur asem kacang, sebetulnya ingin sekali sarapan waktu itu tapi agar tidak ketinggalan film akupun rela, Ke”lapar”an itu muncul kembali tatkala mas alif sambil nonton TV sambil sarapan (enak banget ya.. pikirku). Ditawarin sich tapi jaim (jaga image) dong. Sebetulnya berangkat pagi, pulang sore tanpa mesti sarapan dulu itu sudah biasa. Bagiku.

 Kembali ke pasar-pasaran, selesai nonton doraemon, kami berlima berkumpul di bawah pohon jambu milik Bu Teguh, tetangga sebelah rumah. Ketika di tengah-tengah permainan perutku makin tidak kenal kompromi, akupun minta ijin pulang dulu untuk makan. “Mas aku ma’em sik yo”, pintaku.”yo ojo suwe-suwe yo”, kata yang lain (hampir serempak).

“Bu, maem, Eyik luwe”, kataku (dengan nada memelas), “yo wis maem sik, iwake ndek njero lemari dapur” jawab ibuku dari dalam rumah (memang letak rumah kami dan dapur terpisah halaman tempat  menjemur baju). Selesai makan aku langsung kembali ke tempat bermain tadi.

            Selang beberapa menit berlalu, tiba-tiba Bapaknya Mas Bowo menyeringai keluar rumah sambil marah-marah , “ Bajingan, sapa sing ngising ndek kene, kurang ajar” sumpah serapah orang jawa keluar semua. Kemarahan itu memuncak seketika, matanya tertuju kearah kami, kamipun bubar  termasuk putra-putrinya sendiri, mas Bowo dan Indra. Sedangkan Meri Ulva dan Devi langsung lari menjauh dari tempat itu, memang selama ini Bapaknya Mas Bowo terkenal galak dan suka mukul orang, maklumlah personel Satgas  Provost. Melihat gelagat tidak baik akupun langkah seribu menuju rumah dan langsung pura-pura tidur.

            Sayup-sayup kudengar Bapak mas Bowo memarahi Ibuku, “Bulek nek nggakbiso njogo anak nggak usah duwe anak, kurang ajar arek cilik dijarno wae ngising ndek ngarep gotku”, “kono deloken”, dengan raut muka yang merah padam membalut kulit yang hitam. Ibuku pun tanpa sepatah kata dank arena tidak mau berpanjang lebar segera  meluncur dengan sigap mengambil sapu dan ember segera menuju ke blok rumah mas Bowo. Dibersihkannya pula bekas buang hajat itu hingga tanpa berbekas. “Ibu wedi nek dadi opo-opo, soale ayahmu kan gak ono”, ujarnya ketika mengulang cerita itu suatu ketika. “yach itung itung nabung amal”,imbuhnya lagi (dengan mata menerawang dan berkaca-kaca)

             Duh hati ini rasanya trenyuh mendengar jawaban Ibu, padahal ketika itu aku nggak sama sekali buang hajat disitu, dan ternyata setelah tiga hari berselang diketahui ternyata Mas Bowo lah yang buang air di situ, namun tidak juga permintaan maaf diucapkan oleh tetanggaku yang tinggal di Blok IV no.7 itu Ibuku bilang “ nggak usah dipikirin yang penting kita ikhlas menerimanya dan nggak dendam”.

            Memang ketabahan itu dapat lahir dari siapa saja dan kapan saja kalau manusia itu paham akan dirinya sendiri, tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah juga. Tidak ada kesombongan kepada siapapun itu walaupun sekedar mengucapkan minta maaf karena salah sangka.

            Orang yang diceritakan di atas, wallahu a’lam kabar terakhir istri beliau mengalami depresi berat sehingga mengalami gangguan mental padahal beliau adalah mantan guru Sekolah Dasar. Kita berdo’a bersama semoga kita terhindar dari sifat yang demikian.

            Terlepas dari apakah benar kalau ibunda Eyik tadi betrdo’a seperti apa, namun yang lebih penting luka hati seorang yang teraniyaya akan lebih didengar Sang Maha Tinggi

Seperti khutbah Umar bin Khatab, “...dan jauhilah doa orang yang teraniyaya, niscaya kau akan selamat” (Khutbah dan Nasihat Para Shahabat, 2002).

 

Kosakata        

-         Mas, aku ma’em sik yo = Kak saya mau makan duku ya

-         Bu, maem, Eyik luwe = Ibu makan Eyik Lapar

-         Yo wis maem sik, iwake ndek njero lemari dapur =  Ya sudah makan dulu, ikannya didalam lemari dapur

-         Bajingan, sapa sing ngising ndek kene, kurang ajar =  Siapa yang buang hajat di sini

-          Bulek nek nggak iso njogo anak nggak usah duwe anak, kurang ajar arek cilik dijarno wae ngising ndek ngarep gotku”, “kono deloken” = “Bu, kalo tidak bisa menjaga anak, tidak perlu punya anak, anak kecil di biarkan buang hajat disaluran airku”. “Coba dilihat”

-          Ibu wedi nek dadi opo-opo, soale ayahmu kan gak ono = Ibu takut terjadi apa-apa, sebab ayahmu tidak ada