Free Web Hosting by Netfirms
Web Hosting by Netfirms | Free Domain Names by Netfirms

kisah 4
kisah 1 kisah 2 kisah 3 kisah 4

 

Up

Adakah yang Lebih Baik dari  Pak De Suparman Itu ?

Tolong menolonglah kamu dalam hal kebaikan dan jangan tolong menolong dalam bidang kejahatan dan kemodlorotan”.

Di sebuah desa kecil di sudut kota Kepanjen, Kabupaten Malang terdapat seseorang yang unik,mungkin juga bukan dari kalangan orang berada hanya seorang pensiunan TNI-AD yang kebetulan sempat mengeyam pendidikan di Sekolah Pendidikan Keperawatan yang sudah terlanjur disebut Pak De Parman, nama lengkap beliau SUPARMAN. Awas jangan sampai salah sebut, bukan SUPERMAN lho.

            Pak De Parman tinggal di rumah sederhana dengan ditemani seorang Istri dengan nama Bu Nining dan empat  orang anak, yang pertama sudah kuliah di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Bogor, yang kedua kuliah di Politeknik Kesehatan Malang, dua yang lainnya masih di Sekolah Dasar.

Sore itu lebih dari lima orang sudah  semenjak aku pulang dari sekolah. Memang rumahku letaknya berdekatan dengan rumah Pak De, hanya terpaut  empat rumah dan jalan raya yang membelah desa kami. “Saya ini batuk nggak berhenti-berhenti sejak tiga bulan yang lalu”, kata seorang tamu dari  Desa Pagak, Malang Selatan.

“Kalau saya sakit gula, Mas. Tuh kan bengkak (sambil menunjukkan luka yang sudah mulai mengeluarkan cairan kuning dari sela-sela perbannya)”, udah ke puskesmas, tapi belum  sembuh  juga”, Kata seorang tamu dari Kecamatan Gondang Legi. “Pilekku iki nggak mampet-mampet mas, koyok’e nggak ono tombo liane “ sergah bapak tetangga desa sebelah. Selebihnya ada yang mengeluhkan sakit perut, luka terbakar, dan luka sehabis dikhitan. Memang tamu-tamu itu ingin mencari pertolongan untuk kesembuhan penderitaannya, Pasien-lah kira-kira namanya.

            Suatu hari ada yang betah bertahan menunggu datangnya Pak De yang tadi malam ditelepon oleh seorang kerabat untuk mengobati seorang anak yang habis jatuh dari pohon. Sambil menunggu akupun sempat berbincang dengan tamu itu,

“ Mengapa tidak berobat langsung ke Dokter saja, kan lebih terjamin,” tanyaku.

Beliau menjawab,” Kalau di dokter itu mahal”. Singkat, padat dan memang begitulah kondisi pelayanan kesehatan di negara berpenduduk 200 juta lebih ini.

            Suatu ketika ada seorang yang dari pakaiannya cukup menunjukkan orang yang ‘berada’, akupun bertanya kepada beliau dengan pertanyaan yang serupa, dan beliau menjawabnya “Sudah pernah Mas, tapi lebih cepat sembuh dengan obatnya Pak De, lagian kalo di Rumah Sakit itu kebanyakan resepnya, saya itu tidak suka minum banyak obat, kalo disini obatnya kecil-kecil, malah banyakan yang serbuk, kan lebih enak minumnya”. “ Memang kalau sudah cocok dengan pengobatan Pak De jadi malas ke yang lain ”, kata seorang Ibu berputra satu yang sempat berobat sakit perut.

            Ada seorang nenek yang sempat bertemu sama saya ketika bertanya keberadaan Pakde yang sudah sejak kemarin belum datang dari daerah Sumber Pucung untuk suatu urusan. Beliau mengatakan,”Kalau di dokter itu harganya ratusan ribu, tapi kalo di Pak Parman nggak bawa uangpun boleh berobat”.

            Ini bukan tokoh rekaan, tapi beliau memang nyata ada. Bukan tokoh khayalan. Kata Pakde suatu ketika ba’da sholat Isya di musholla waqaf RT 03 RW 01, sempat aku bergumam ke Pak De “ Alhamdulillah Pak De, pasiennya lagi banyak tuh”,

Buka praktek aja Pak De biar makin banyak.“. Namun Pak De berkata,” Nggak usah mas, sebab kalau buka praktek dan pengumuman dimana–mana nanti dikiranya untuk kalangan tertentu saja, sebab kelihatannya  ada tarif tertentu yang mengikat warga, sehingga lebih leluasa tanpa pengenal saja, kalau ada yang tahu biar getuk tular aja, masak mau berbuat amal kok dikoar-koar ?”, “Bawaanya malah nggak ikhlas”. Panjang lebar Pak De yang terkenal santun itu menjelaskan padaku perihal rutinitasnya itu, iya memang hampir tiada hari tanpa pasien yang dengan rela menungu penanganan dari seorang 58 tahun itu.

            “Memang salah satu amalan yang dibawa mati seseorang itu kan amal jariyah , selain ilmu yang bermanfaat dan doa anak kepada orang tua, betul tidak? “ tanya beliau kapada ku saat berkunjung ke rumah beliau untuk silaturrahim. “ Yang penting kemampuan saya nggak sia-sia”,  imbuh beliau.

Tidak terasa hari itu menjelang kepulanganku kembali ke bogor, tiba-tiba di belakangku sudah ada seoarang laki-laki dengan wajah yang bergurat letih termakan usia yang tampak kebingungan dan dengan suara terbata bertanya,” Nak apa betul ini rumahnya Pak Parman ?”, akupun menjawab “Ya Pak, monggo pinarak”, pintaku mempersilakan. “Bapak masih belum datang, insya Allah ada keluarganya didalam“ jawabku.

            Itulah Pak De Suparman yang sudah hampir  tujuh tahun kepindahannya ke kampung kami, walaupun selama itu juga tiada perubahan berarti di rumah beliau, dan tetap masih belum ada plang pengenal yang menunjukkan di dalam itu ada seorang yang siap menyumbangkan segenap kemampuannya untuk kesembuhan orang lain.       

            Anda ingin mengunjungi beliau, silakan datang saja ke Jalan Jeruk No.1 RT. 03 RW. 01  Desa Ngadiluwih Kedung Pedaringan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang Jawa Timur. Selamat menemui pribadi yang unik !!!.

Memang tidak banyak orang seperti Pak De ini dan belum tentu dalam kurun waktu satu, dua, tiga, lima tahiun akan lahir orang yang berjiwa besar seperti beliau, saya do’akan semoga engkau panjang umur Pak De Parman, amien.

Jadi adakah yang lebih baik dari Pak De  Suparman itu ?....

 

Orang yang paling bermanfaat bagi orang lain adalah salah satu ciri orang yang beruntung” sabda Rasulullah SAW.

             

Kosakata:

-          Pilekku iki nggak mampet-mampet mas, koyok’e nggak ono tombo liane = Pilek saya ini rasanya tidak mau berhenti, seperti tidak ada obat lainnya

-           Nggak usah mas = tidak perlu

-          Dikoar-koar = diumumkan

-          Bawaanya malah nggak ikhlas =  membuat tidak ikhlas

-          Monggo pinarak =  silakan masuk