|
Adakah yang Lebih Baik dari Pak De Suparman Itu ?
“Tolong
menolonglah kamu dalam hal kebaikan dan jangan tolong menolong dalam
bidang kejahatan dan kemodlorotan”.
Di sebuah desa kecil di sudut kota Kepanjen, Kabupaten Malang terdapat
seseorang yang unik,mungkin juga bukan dari kalangan orang berada hanya
seorang pensiunan TNI-AD yang kebetulan sempat mengeyam pendidikan di
Sekolah Pendidikan Keperawatan yang sudah terlanjur disebut Pak De
Parman, nama lengkap beliau SUPARMAN. Awas jangan sampai salah sebut,
bukan SUPERMAN lho.
Pak De Parman tinggal di rumah sederhana dengan ditemani
seorang Istri dengan nama Bu Nining dan empat orang anak, yang pertama
sudah kuliah di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Bogor, yang kedua
kuliah di Politeknik Kesehatan Malang, dua yang lainnya masih di Sekolah
Dasar.
Sore itu lebih dari lima orang sudah semenjak aku pulang dari sekolah.
Memang rumahku letaknya berdekatan dengan rumah Pak De, hanya terpaut
empat rumah dan jalan raya yang membelah desa kami. “Saya ini batuk
nggak berhenti-berhenti sejak tiga bulan yang lalu”, kata seorang tamu
dari Desa Pagak, Malang Selatan.
“Kalau saya sakit gula, Mas. Tuh kan bengkak (sambil menunjukkan luka yang
sudah mulai mengeluarkan cairan kuning dari sela-sela perbannya)”, udah
ke puskesmas, tapi belum sembuh juga”, Kata seorang tamu dari
Kecamatan Gondang Legi. “Pilekku iki nggak mampet-mampet mas, koyok’e
nggak ono tombo liane “ sergah bapak tetangga desa sebelah.
Selebihnya ada yang mengeluhkan sakit perut, luka terbakar, dan luka
sehabis dikhitan. Memang tamu-tamu itu ingin mencari pertolongan untuk
kesembuhan penderitaannya, Pasien-lah kira-kira namanya.
Suatu hari ada yang betah bertahan menunggu datangnya Pak De
yang tadi malam ditelepon oleh seorang kerabat untuk mengobati seorang
anak yang habis jatuh dari pohon. Sambil menunggu akupun sempat
berbincang dengan tamu itu,
“
Mengapa tidak berobat langsung ke Dokter saja, kan lebih terjamin,”
tanyaku.
Beliau
menjawab,” Kalau di dokter itu mahal”. Singkat, padat dan memang
begitulah kondisi pelayanan kesehatan di negara berpenduduk 200 juta
lebih ini.
Suatu ketika ada seorang yang dari pakaiannya cukup
menunjukkan orang yang ‘berada’, akupun bertanya kepada beliau dengan
pertanyaan yang serupa, dan beliau menjawabnya “Sudah pernah Mas, tapi
lebih cepat sembuh dengan obatnya Pak De, lagian kalo di Rumah Sakit itu
kebanyakan resepnya, saya itu tidak suka minum banyak obat, kalo disini
obatnya kecil-kecil, malah banyakan yang serbuk, kan lebih enak
minumnya”. “ Memang kalau sudah cocok dengan pengobatan Pak De jadi
malas ke yang lain ”, kata seorang Ibu berputra satu yang sempat berobat
sakit perut.
Ada seorang
nenek yang sempat bertemu sama saya ketika bertanya keberadaan Pakde
yang sudah sejak kemarin belum datang dari daerah Sumber Pucung untuk
suatu urusan. Beliau mengatakan,”Kalau di dokter itu harganya ratusan
ribu, tapi kalo di Pak Parman nggak bawa uangpun boleh berobat”.
Ini bukan tokoh rekaan, tapi beliau memang nyata ada. Bukan
tokoh khayalan. Kata Pakde suatu ketika ba’da sholat Isya di musholla
waqaf RT 03 RW 01, sempat aku bergumam ke Pak De “ Alhamdulillah
Pak De, pasiennya lagi banyak tuh”,
Buka
praktek aja Pak De biar makin banyak.“. Namun Pak De berkata,” Nggak
usah mas, sebab kalau buka praktek dan pengumuman dimana–mana nanti
dikiranya untuk kalangan tertentu saja, sebab kelihatannya ada tarif
tertentu yang mengikat warga, sehingga lebih leluasa tanpa pengenal
saja, kalau ada yang tahu biar getuk tular aja, masak mau berbuat
amal kok dikoar-koar ?”, “Bawaanya malah nggak ikhlas”.
Panjang lebar Pak De yang terkenal santun itu menjelaskan padaku perihal
rutinitasnya itu, iya memang hampir tiada hari tanpa pasien yang dengan
rela menungu penanganan dari seorang 58 tahun itu.
“Memang
salah satu amalan yang dibawa mati seseorang itu kan amal jariyah ,
selain ilmu yang bermanfaat dan doa anak kepada orang tua, betul tidak?
“ tanya beliau kapada ku saat berkunjung ke rumah beliau untuk
silaturrahim. “ Yang penting kemampuan saya nggak sia-sia”, imbuh
beliau.
Tidak terasa hari itu menjelang kepulanganku kembali ke bogor, tiba-tiba
di belakangku sudah ada seoarang laki-laki dengan wajah yang bergurat
letih termakan usia yang tampak kebingungan dan dengan suara terbata
bertanya,” Nak apa betul ini rumahnya Pak Parman ?”, akupun menjawab “Ya
Pak, monggo pinarak”, pintaku mempersilakan. “Bapak masih belum
datang, insya Allah ada keluarganya didalam“ jawabku.
Itulah Pak
De Suparman yang sudah hampir tujuh tahun kepindahannya ke kampung
kami, walaupun selama itu juga tiada perubahan berarti di rumah beliau,
dan tetap masih belum ada plang pengenal yang menunjukkan di dalam itu
ada seorang yang siap menyumbangkan segenap kemampuannya untuk
kesembuhan orang lain.
Anda ingin mengunjungi beliau, silakan datang saja ke Jalan
Jeruk No.1 RT. 03 RW. 01 Desa Ngadiluwih Kedung Pedaringan, Kecamatan
Kepanjen, Kabupaten Malang Jawa Timur. Selamat menemui pribadi yang unik
!!!.
Memang tidak banyak orang seperti Pak De ini dan belum tentu dalam kurun
waktu satu, dua, tiga, lima tahiun akan lahir orang yang berjiwa besar
seperti beliau, saya do’akan semoga engkau panjang umur Pak De Parman,
amien.
Jadi adakah yang lebih baik dari Pak De Suparman itu ?....
“
Orang yang paling bermanfaat bagi orang lain adalah salah satu ciri
orang yang beruntung” sabda Rasulullah SAW.
Kosakata:
-
Pilekku iki nggak mampet-mampet mas, koyok’e nggak ono tombo liane =
Pilek saya ini rasanya tidak mau berhenti, seperti tidak ada obat
lainnya
- Nggak
usah mas = tidak perlu
-
Dikoar-koar = diumumkan
-
Bawaanya malah nggak ikhlas = membuat tidak ikhlas
-
Monggo pinarak = silakan masuk |